Fisioterapi Kurang Dikenal: IFI Mesti Banyak Sosialisasi kepada Masyarakat

 Pasien sedang Latihan penguatan Otot pahaFISIOTERAPI: Pasien tengah menjalani fisioterapi dengan melatih kekuatan otot-otot paha di Klinik Fisioterapi Center Samarinda.

Padatnya aktivitas kadang membuat seseorang mengabaikan gejala-gejala gangguan kesehatan yang dialaminya. Misalnya gangguan fungsi gerak pada tubuh. Sebelum gangguan ini fatal, masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan fisioterapi.

Penasihat Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI) Kaltim Johansyah Amin mengakui, pemanfaatan fisioterapi sebagai bagian dari komponen pelayanan kesehatan masih menghadapi beberapa kendala. Di antaranya, kesadaran masyarakat Kaltim masih rendah, fisioterapi belum dikenal secara luas oleh masyarakat, dan tenaga-tenaga fisioterapi masih terbatas. Fisioterapi merupakan ilmu yang fokus untuk menstabilkan atau memperbaiki gangguan fungsi alat gerak tubuh yang disertai proses terapi gerak.

Saat ini, banyak orang salah pengertian mengenai fungsi fisioterapi. Metode ini kerap hanya diartikan untuk kegiatan memijat otot terkilir atau jika orang kelelahan. Padahal, fisioterapi digunakan untuk mengatasi segala gangguan gerak Jika gangguan gerak tersebut tidak segara diatasi, bisa semakin parah dan membahayakan penderita.

Johansyah mengakui, kurangnya pemahaman masyarakat terhadap fungsi fisioterapi tentu memerlukan sosialisasi yang lebih banyak. Ini penting, karena manfaat fisioterapi juga bisa untuk penyembuhan atau terapi masa trauma kecelakaan, atau terapi setelah operasi. “Khusus untuk atlet atau olahragawan, fisioterapi sebenarnya sudah tak asing lagi. Bahkan, sejak PON tahun 1989 kami ikut berpartisipasi,” jelasnya.

Sekadar diketahui, para fisioterafi di Kaltim, pada 19 Juli lalu menggelar Musyawarah Daerah IFI Kaltim di Klinik Fisioterapi Center Samarinda. Musda itu merupakan upaya penyegaran organisasi propesi fisioterapi di daerah ini agar bisa berperan lebih aktif sesuai fungsi yang diembannya. “Musda itu sebagai wadah untuk membantu masyarakat. Terutama pada mereka yang cedera akibat olahraga, autis, stroke, dan peningkatan kapasiras fungsi organ,” kata Johansyah.

Dalam Musda IFI tersebut ditunjuk beberapa fisioterapi senior dan penasehat IFI. Di antaranya, Johansyah Amin, Hendriansyah, dan Satip. Selain itu, juga terpilih Satriansyah RPT sebagai ketua umum IFI Kaltim periode 2009-2013, Sekretaris Barlianta, dan Bendahara IFI Kaltim Rudi.

TERBATAS

Mengenai SDM, juga diakui masih terbatas. Johansyah mencontohkan, di RSUD AW Sjahranie (AWS) Samarinda hanya terdapat 6 orang tenaga fisioterapi, RS Dirgahayu Samarinda 1 orang, dan Rumah Sakit Haji Darjat (RSHD) Samarinda 2 orang. Kemudian, untuk yang praktik swasta juga sangat terbatas. “Karena itu, kami dengan beberapa fisioterapis bergabung untuk membuka praktik bersama di Klinik Fisioterapi Center Samarinda,” jelasnya.

Ke depan diharapkan, bidang fisioterapi ini terus berkembang. Setiap puskesmas mesti memiliki tenaga fisioterapi. Lebih jauh dijelaskan, untuk lebih mengenal profesi fisioterapi ada falsafah-nya. Sesuai dengan nilai-nilai Pancasila yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, profesi fisioterapi memandang kapasitas gerak dan fungsi tubuh sebagai Hak Asasi Manusia (HAM). Di mana HAM sesungguhnya adalah esensi dasar untuk hidup sehat dan sejahtera.

Di mana, fisioterapi memberikan intervensi pada populasi tertentu yang mencakup kebangsaan, regional, dan daerah, serta kelompok khusus seperti anak sekolah, wanita hamil, dan usia lanjut. Otonomi profesional fisioterapi diperoleh melalui pendidikan profesi, yang menyiapkan tenaga yang mampu praktik secara otonom. Juga mampu melakukan keputusan profesional untuk menetapkan diagnosis yang diperlukan sebagai dasar intervensi, rehabilitasi, dan pemulihan dari pasien atau klien.

Di samping itu, diperlukan prinsip etika untuk mengenali otonomi praktik guna melindungi pasien dan pelayannya. Diagnosis fisioterapi adalah proses kajian klinis yang menghasilkan identifikasi adanya gangguan ataupun potensi timbulnya gangguan, keterbatasan fungsi dan ketidakmampuan atau kecacatan.

Dalam proses diagnosis, bila ditemukan hal-hal di luar pengetahuan, pengalaman atau keahlian, fisioterapis akan merujuk pasien kepada profesi lain yang tepat. “Sebagai profesi, fisioterapi tentu memiliki perangkat profesional. Yakni, berupa standar kompetensi, sumpah profesi, etika profesi, standar asuhan atau praktik, standar pendidikan, dan legislasi fisioterapi,” jelasnya. (kri)

sumber  : http://www.kaltimpost.web.id/index.php?mib=berita.detail&id=32065

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: