Rabu, 08 April 2009 Secepatnya Dilakukan Study Kelayakan Tim Ahli Belanda Cari Solusi Banjir

transpot-baru-disamarinda

transpot-baru-disamarinda

semoga banjir seperti ini tidak terjadi lagi di Jl Pembangunan samarinda

semoga banjir seperti ini tidak terjadi lagi di Jl Pembangunan samarinda
banjir seputaran Lembuswana langganan setiap hujan

banjir seputaran Lembuswana langganan setiap hujan

Rabu, 08 April 2009 , 09:11:00 Secepatnya Dilakukan Study Kelayakan Tim Ahli Belanda Cari Solusi Banjir (sumber Kaltim Post) SAMARINDA – Masalah banjir bukan hanya masalah lingkungan, tapi juga masalah krusial bagi ekonomi. Bila tak cepat diantisipasi maka akan menimbulkan kerugian yang besar. Hal ini disampaikan Aart Van Nes, chairman Netherlands Water Partnership Indo (NPWI), di hadapan perwakilan Pemprov Kaltim, Pemkot Samarinda, Pemkot Balikpapan, serta Pemkab Kukar. “Kalau tak cepat ada tindakan, maka akan memberikan kerugian materil yang besar. Contohnya di Semarang, kerugian materil mencapai USD 4 juta per tahun,” ujar Aart Van Nes di Kantor Gubernur Samarinda, kemarin. Selain Aart, tim ahli asal Belanda yang datang adalah Jan Jaap Brinkman dari Delf Hydrolics, Hilco Timmer dari Witteveen, Mike Alder dari BAM International BV, Jaap Van der Verden dari Kedutaan Besar Belanda dan Elmar Bouma, direktur NPWI. Setelah melihat presentasi tentang banjir yang terjadi di beberapa daerah di Kaltim seperti Balikpapan, Kukar, dan Kutim, tim ahli Belanda ini menyimpulkan, cara efektif mengurangi banjir adalah dengan meningkatkan peran masyarakat dalam pengawasan lingkungan dan memanfaatkan sistem polder yang baik. “Seperti yang akan kami lakukan di Polder Banger di Semarang. Lurah menjadi urban manager yang mendorong warganya ikut memelihara polder, termasuk kebersihan lingkungan. Selain itu, ada iuran pemeliharaan polder bagi masyarakat yakni Rp 70 ribu per tahun. Ini bisa menutupi biaya pemeliharaan polder yang mencapai Rp 1,4 miliar per tahun (belum termasuk kontribusi perusahaan di daerah itu),” jelas Aart. Sekadar diketahui Polder Banger sudah diwacanakan 2000 silam, namun baru akan direalisasikan Pemkot Semarang pada 2010 nanti. Proyek tersebut merupakan implementasi dari konsep penanganan banjir dan rob yang sering kali melanda kawasan kota lama, melalui pemanfaatan dua sub sistem drainase meliputi sungai Banger Utara dan sungai Banger Selatan. Dana pembangunan megaproyek ini dari Pemerintah Pusat. “Banger Pilot Polder” ini diperkirakan menelan dana 565,28 juta dolar AS. Di hadapan perwakilan pemerintah daerah di Kaltim, tim ahli asal Belanda ini juga menyebutkan, pembuatan pintu air di titik-titik muara sungai yang berhubungan dengan laut, efektif mengurangi efek air pasang. “Yang kami lakukan di Semarang, bisa dilakukan di Sungai Karang Mumus. Pintu air ini akan mencegah air laut yang pasang menggenangi kota,” jelas Aart. Dijelaskan Aart, masalah banjir tak bisa tuntas begitu saja. Pihaknya hanya bisa melakukan tindakan pencegahan dan mengurangi efek dari banjir itu. Masalah banjir katanya, baru bisa betul-betul hilang bila ada perubahan tata ruang daerah. “Terutama untuk daerah resapan air. Untuk masalah banjir ini, untuk sementara dicari upaya agar terjadi pengurangan efek. Agar kerugian materil bisa berkurang,” ujarnya. Sementara, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kaltim Rusmadi menyebutkan, ada tiga hal yang diminta pemprov pada tim ahli ini. Pertama, advis dalam pembuatan visibility study penanganan banjir di daerah, bagaimana meningkatkan peran komunitas warga dan melakukan review master plan dari sistem penanganan banjir yang sudah ada. “Jadi, setelah tim ahli asal Belanda ini melihat sendiri kondisi daerah dengan melakukan kunjungan, tiga hal ini merupakan langkah selanjutnya yang akan mereka kerjakan,” jelasnya. Dari presentasi pemprov ke tim ahli asal Belanda itu, banjir yang terjadi di beberapa daerah seperti Kukar, Samarinda, Balikpapan dan Kutim, semuanya berujung pada aktivitas penambangan dan lingkungan. “Ini merupakan masukan bagi tim kami. Masalah di Kaltim cukup berbeda dari daerah lain yang pernah kami lakukan studi,” ujar Aart. Untuk diketahui, kedatangan tim ahli asal Belanda ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan pemprov dengan Dubes Belanda di Jakarta beberapa waktu lalu. Secara khusus mereka datang ke Kaltim untuk menuntaskan masalah banjir. (*/che)

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: